Petani Asal Tegal Sulap Lahan Sempit Jadi Uang

Bupati Tegal beserta jajarannya memetik anggur merah bersama. Sumber: Pemkab Tegal.

Tarub – Pekarangan sempit kini bukanlah masalah bagi mereka yang mendambakan lingkungan asri. Pasalnya petani asal Tegal ini telah membuktikannya sendiri. Ia adalah Wahud, petani anggur merah sekaligus Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL TanKP Kabupaten Tegal.

Dilansir dari laman Pemkab Tegal, pohon anggur milik Wahud mampu memanen 45-70 kg anggur merah dalam satu pohon. “Dilahan 6 meter itu saya menanam dua pohon anggur merah, hasilnya pun sangat memuaskan. Karena dalam waktu setahun dapat dipanen 2 kali. Sekilo saya jual dengan harga Rp 25 ribu.”, kata Wahud.

Bupati Tegal, Umi Azizah munuturkan hal tersebuat bermanfaat untuk mempercantik halaman atau lahan kosong. Namun, budidaya semacam ini memiliki nilai tambah tersendiri karena buahnya bisa dijual untuk menambah ekonomi keluarga.

Umi berharap warganya ada yang mau meniru Pak Wahud memanfaatkan lahan sempitnya untuk bercocok tanam. “Saya sangat berharap langkah ini ditiru oleh seluruh masyarakat Kabupaten Tegal. Selain ditanami anggur, lahan sempit juga bisa ditanam sayuran seperti daun bawang kucai yang bisa dimanfaatkan untuk mendoan.”, jelasnya.

Tabulampot Solusi Lahan Sempit Perkotaan

Kepanjangan tabulampot sendiri ialah tanaman buah dalam pot, ini berarti tidak memerlukan lahan yang luas. Tanaman dalam pot juga bisa berupa bunga, buah dan sayur mayur. Ketiganya bisa dipadupadankan sehingga bisa terlihat lebih elok untuk pekarangan sempit yang kita punya.

Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi 75% penduduk negara-negara berkembang akan tinggal di kawasan perkotaan pada tahun 2020. Ini berarti udara akan semakin tercemar dan kebutuhan akan udara segar tidak terpenuhi. Salah satu solusinya dengan menciptakan pertanian perkotaan dengan tabulampot yang ditempatkan pada halaman depan rumah maupun atap rumah.

Selain mempercantik lingkungan tempat tinggal, tabulampot juga memiliki nilai edukasi; ekonomi; wisata; dan kesehatan. Tersedianya ruang terbuka hijau (RTH) disekitar tempat tinggal memberi udara yang berkualitas, CO2 akan terserap dengan sendirinya.

Hasil penelitian Smith dan A. Ratta, penulis buku Urban Agriculture : Food, Jobs and Sustainable Cities (2001) menunjukan bahwa pertanian perkotaan mampu menyumbang produksi pangan dunia sebesar 15-20%. Ini bisa menjadi wirausaha baru dengan modal yang tidak terlalu besar.

Add Comment