Walikota Tegal : Saatnya Mayoritas Merangkul Minoritas

Sarasehan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional. Sumber: Pemkot Tegal.

Mangkukusuman – Dalam rangka memeperingati Hari Santri Nasional, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Kota Tegal mengadakan Sarasehan Kebangsaan. Sarasehan yang mengusung tema “Santri, Kearifan Lokal dan Kebangsaaan” ini digelar di Pendopo Ki Gede Sebayu, Sabtu (26/10/2019).

Pada situs resmi milik Pemkot Tegal disebutkan acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh diantaranya Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyono, S. E., M. M., Kapolres Tegal Kota AKBP Siti Rondhijah, tokoh lintas agama, budayawan, pengurus PCNU dan peserta lainnya. Adapun narasumber dalam sarasehan kali ini ialah Sekretaris Jenderal Lesbumi NU, KH. Abdullah Wong dan Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag. M.Ag dari Yogyakarta.

Rangkaian dari kegiatan peringatan Hari Santri di Kota Tegal tersebut menuai apresiasi dari Walikota Tegal karena dinilai mampu menumbuhkan suasana harmonis dan kerukunan antar umat beragama. Beliau pun mengajak kaum mayoritas untuk selalu merangkul mereka yang menjadi minoritas. “Kalau mayoritas merangkul minoritas maka akan aman.”, jelasnya.

“Tingkat toleransi antara umat beragama di Kota Tegal menempati urutan ke-14 secara nasional dan menempati urutan ke-2 di Jawa Tengah. Sedangkan untuk kota berdasarkan mayoritas muslim, tingkat toleransi di Kota Tegal menempati peringkat lima secara nasional.”, imbuhnya.

Toleransi Beragama Menjadi Kunci Utama

Bangsa Indonesia sendiri telah memiliki Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesi Tahun 1945 (UUD’45) dan Pancasila sebagai pilar kerukunan umat beragama di negeri ini. Secara substansi keduanya sama-sama mengajak untuk saling gotong royong, guyub rukun atas nama Indonesia. Gambaran Indonesia seakan terlukis dalam Bhineka Tunggal Ika, yang mana artinya berbeda-beda namun tetap satu jua.

“Islam Indonesia dikenal sebagai the smiling dan colorful Islam, Islam yang penuh warna dan kedamaian. Islam Indonesia sangat tidak kental dengan Arab tetapi bukan berarti tidak lebih Islami dari negara Arab. Sejumlah peneliti mengungkapkan bahwa masyarakat muslim Indonesia lebih taat menjalankan syariat Islam, seperti puasa, sholat Jumat, dan haji dibandingkan beberapa negara di Timur Tengah”, jelas Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE..

Sementara itu, Kontras menerangkan bahwa toleransi di Indonesia tidak dapat berjalan dengan baik tanpa ketegasan dari pemerintah. Menurutnya kebijakan diskriminatif yang didiamkan tidak akan membawa Indonesia menjadi negara yang ramah akan kemajemukan. Toleransi sudah seharusnya menjadi tonggak dalam penegakan hak asasi manusia, terutama dari sektor negara, yang dapat menghargai ragam budaya dan eskpresi tiap manusia.

Add Comment