2019, 2.019 Penari Topeng Kelana Penuhi Hanggawan

Seorang nenek memegang topeng kelana. Sumber: Setda Kabupaten Tegal.

Slawi – Minggu (17/11) pagi, alun-alun Hanggawana Slawi dipenuhi 2.019 penari. Mereka membawakan Tari Topeng Kelana ciptaan Ibu Suwitri, ia pula yang menciptakan Tari Topeng Endel. Semua peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat baik komunitas maupun sekolah yang ada di Kabupaten Tegal.

“Ini bentuk langkah yang bersifat pelestarian terlebih mayoritas penari adalah generasi millenial. Karena upaya pelestarian seni budaya harus melibatkan generasi muda serta adanya kecintaan dari kecintaan generasi muda itu sendiri,” tutur Wakil Bupati Tegal, Sabilillah Ardie.

Plt. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Ahmad Wasyari menuturkan gelar budaya tersebut sebagai wujud upaya melestarikan budaya sehingga bisa memperkuat jati diri bangsa dan menumbuhkembangkan budaya dikalangan seluruh generasi bangsa.

Dilansir dari laman Pemkab Tegal, Wakil Bupati Tegal, Ardie merasa selayaknya seorang seniman. Hal itu dirasakannya ketika mendengar lantunan musik yang membawanya hanyut dalam gerakan tari.

Sementara itu, tampak pula Komunitas Driver Online Tegal-Slawi yang ikut meramaikan acara tersebut. Ada sekitar 30 personil dari komunitas ini yang turut membaur. “Ini merupakan salah satu wujud peduli dan ikut serta melestarikan kesenian di Kabupaten Tegal,” kata Koordinator Lapangan Driver Online, Tejo Jatmiko.

Tari Topeng Sebagai Dakwah Walisongo

Menurut Hazeu dalam Surjaatmadja (1997), topeng adalah suatu pertunjukan dimana yang tampil adalah laki-laki dan juga perempuan yang menggunakan topeng di mukanya. Dalam bukunya, Juynboll menuliskan pengukiran topeng yang dipakai dalam pertunjukan topeng diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Oleh Sunan Kalijaga, pertunjukan topeng digunakan sebagai alat dalam menyebarluaskan agama Islam di tanah jawa, sehingga tak aneh bila ada berbagai jenis tari topeng seperti tari Klana Topeng, tari Topeng Cirebon, tari Topeng Endel, tari Topeng Barong, tari Reog Ponorogo dan sebagainya.

Menurut Sularto (1975) pada era Sunan Kalijaga, topeng tidak lagi berhubungan dengan pemujaan roh maupun dukun. Sebelumnya, Sunan Kalijaga menghilangkan sifat magis topeng, meniadakan peranan syaman (dukun) karena hal itu bertentangan dengan Islam. Baru ketika di Jawa Barat, Sunan Kalijaga bersama Sunan Gunung Jati pun memperkenalkan topeng sebagaiĀ  media dakwah.

Menurut Effendy 1981, media tradisional secara khusus adalah media yang dipergunakan oleh khalayak pada masyarakat tertentu secara turun temurun. Penyisipan pesan pada model media komunikasi tradisional sebenarnya hanya sekilas saja, sebab yang paling dominan yang dipertunjukkan adalah lakon dan humornya (hiburannya). Namun menurut Hidayat (2007), komunikasi massa tradisional paling memungkinkan pelaksanaannya untuk daerah pedesaan. Melalui kesenian itulah pesan-pesan tertentu bisa diteruskan.

Meski sampai saat ini masih ada beberapa tari topeng yang dianggap mistis namun tidak bisa dipungkiri bahwa tari topeng menjadi salah satu media dakwah Walisongo. Keberadaan tari topeng pun semakin memperkaya kebudayaan Indonesia.

Add Comment