Edukasi Jamu di Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung

Tampak depan Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung Kabupaten Tegal. Sumber: Humas Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.

Balapulang – Suburnya bumi pertiwi tak khayal membuat banyak tumbuhan berkhasiat menjamur di Indonesia. Jamu adalah racikan bahan-bahan herbal yang merupakan warisan leluhur Indonesia. Namun keberadaan jamu di era modern ini agaknya mulai tergeser dengan banyaknya obat produksi pabrikan. Nah, bagi generasi millenial yang mau belajar jamu-jamuan bisa berkunjung ke wisata edukasi di Kabupaten Tegal.

Awalnya, Wisata Kesehatan Jamu (WKJ) Kalibakung hanyalah kolam renang yang sudah ada sejak puluhan tahun dan akhirnya terbengkalai selama beberapa tahun. Barulah pada tahun 2010an, Bupati Tegal saat itu berinisiatif untuk mengembangkan tempat wisata tersebut.

Inisiatif bupati didukung oleh Kementerian Kesehatan. Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, pembangunan wisata ini dimotori oleh Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional Alternatif dan Komplementer, Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan dan Balitbangkes, Balai Besar Pusat Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu. Dengan dimotori langsung oleh beberapa balai dari Kemenkes, pengembangan wisata berlangsung pada tahun 2012-2015.

Lokasi WKJ ini terletak di ketinggian sekitar 650 mdpl dengan luas lahan sekitar 3,2 ha. Di lahan seluas itu sudah ada sekitar 280 tanaman herbal dengan manfaatnya masing-masing. Selain itu, ada pula beberapa pelayanan yang ditawarkan wisata ini yakni dokter umum, apoteker, perawat, etalase berbagai jenis jamu dan tenaga penyuluh/ pemandu wisata jamu yang profesional. Selain edukasi kesehatan, wisata ini juga menghadirkan beberapa wahana outbond.

Saatnya Herbal Indonesia Mendunia

Pada tahun 2017, sebuah media pemberitaan online mengabarkan Wisata Kesehatan Jamu Kalibakung sepi pengunjung. Padahal ada beberapa pihak yang berharap WKJ ini bisa berkembang seperti Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu.

Apa boleh dikata, sepinya WKJ harus bisa menjadi pembelajaran bersama. Pemerintah dan masyarakat harus bahu membahu mengembalikan nama wisata edukasi jamu ini ke telinga masyarakat umum. Pasalnya jamu adalah produk asli Indonesia, bahkan salah satu produk jamu pabrikan dalam negeri berhasil go internasional.

Masih ingat, kisah 3 orang siswa asal Palembang yang menemukan obat kanker? Mereka mengaplikasikan tanaman bajakah yang sudah menjadi serbuk ke tikus yang sudah disuntik dengan sel kanker. Hasilnya, tikus tersebut tetap hidup hingga mampu berkembang biak. Temuan ini pun berhasil membawa mereka menjuarai hingga tingkat dunia life sains pada ajang World Invention Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan.

Temuan itu harusnya menjadi dorongan bagi kita untuk tetap melestarikan jamu. Selain menguntungkan dalam segi kesehatan, jamu juga sedikit banyak ikut menyumbang sektor perekonomian.

Dilansir dari laman resmi BPOM, pihaknya beserta Kemenko PMK telah membuat Satgas untuk mempercepat hilirisasi produk jamu. BPOM  juga menyampaikan bahwa lifestyle konsumsi jamu merupakan bentuk kecintaan pada tanah air (nasionalisme) yang bisa dibangkitkan dalam hati setiap anak negeri khususnya para milenial.

Add Comment