Kurangi Kasus Perceraian, Pemkab Tegal Adakan Seminar Keluarga Samawa

Seminar Tips dan Trik Keluarga Sakinah Mawadah Wa Rahmah oleh Dharma Wanita KabupatenTegal. Sumber: Pemkab Tegal.

Slawi – Salah satu penyebab perceraian di Kabupaten Tegal ialah pasangan meninggalkan salah satu pihak dan alasan ekonomi. Data Pengadilan Agama Kelas IA Slawi menyebutkan ada 4.050 kasus perceraian pada tahun 2017 dan jumlahnya terus bertambah. Hingga tahun 2018 jumlahnya bertambah menjadi 4. 212 kasus.

Sebagai upaya mengurangi kasus perceraian, Pemerintah Kabupaten Tegal melalui Dharma Wanita menggelar Seminar Tips dan Trik Keluarga Sakinah Mawadah Wa Rahmah di Pendopo Amangkurat Setda Kabupaten Tegal, Selasa (5/11) pagi kemarin.

Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Tegal, Edi Budiyanto mewakili Bupati Tegal, Umi Azizah menuturkan bahwa membangun keluarga harmonis turut menjadi tanggung jawab pemerintah dan swasta juga. Menurutya keluarga yang tidak harmonis bisa jadi disebabkan karena kurang pikinik.

“Salah satunya adalah dengan membangun sarana publik, sarana rekreasi yang dapat diakses, dijangkau oleh seluruh lapisan keluarga. Hal itu penting karena ketidakharmonisan rumah tangga dapat terjadi karena kurang piknik,” ujarnya dalam sambutan mewakili Bupati.

Edi juga menerangkan bahwa sampai September 2019, sudah ada 3.451 pasangan yang mengajukan cerai ke Pengadilan Agama Slawi. Gugatan tersebut mayoritas diajukan oleh istri kepada suami. Ia juga memaparkan setidaknya ada 1.434 kasus atau 34% dari total kasus perceraian di Tegal dikarenakan pasangan meninggalkan salah satu pihak. Sisanya, sekitar 1.389 atau 33% nya karena masalah ekonomi.

Berkembangnya era digital sedikit banyak memengaruhi kasus perceraian. “Di Facebook kita tidak hanya bisa mencari teman lama, tapi juga bisa memfilter pertemanan berdasarkan jenis kelamin, tempat tinggal, usia, kegemaran atau hobby hingga status perkawinan. Apalagi tahun 2018 lalu, Facebook mempunyai fitur Facebook Dating yang membantu siapapun yang ingin mencari pasangan,” imbuhnya.

Ketua Dharma Wanita Kabupaten Tegal, Ratna Widodo Joko Mulyono menuturkan bahwa tidak semua kasus perceraian karena faktor ekonomi. “Buktinya, terdapat keluarga yang bergelimang harta tetapi memutuskan untuk bercerai. Untuk itu setiap keluarga perlu dibekali dengan tips dan trik tercapai keluarga yang Sakinah Mawaddah Wa Rahmah,” ujarnya.

Dilansir dari laman resmi Pemkab Tegal, Setda Kabupaten Tegal sendiri menyebutkan jika semua gugatan perceraian terealisasi maka ada sekitar 13 janda baru perharinya.

Adapun narasumber pada seminar tersebut merupakan perwakilan dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Tengah, yakni Ibu Martuti.

Penyebab Perceraian di Indonesia

Belakangan ini fenomena cerai gugat menjadi hal biasa, terlebih pada kalangan artis. Bahkan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin menilai perceraian saat ini bukan lagi suatu hal karena ketidak cocokan, melainkan sudah menjadi hal yang bisa direncanakan.

“Karena mereka sebelum nikah, sudah saling bersepakat, antara pasangan laik-laki dan perempuan, kalau kita nikah dua tahun saja, atau tiga tahun saja, setelah itu kita cerai,” kata Lukman.

Sementara itu, Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menyebutkan faktor umum penyebab perceraian diantaranya ketidakharmonisan rumah tangga, faktor ekonomi, krisis keluarga, cemburu, poligami, kawin paksa, kawin bawah umur dan penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga, suami atau istri dihukum dan akhirnya kawin lagi, cacat biologis/tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis, perbedaan politik, gangguan pihak keluarga dan tidak ada lagi kecocokan (selingkuh).

Namun Dra. Nunung Rodliyah dalam disertasinya yang berjudul “Perceraian Pasangan Muslim Berpendidikan Tinggi (Studi Kasus di Kota Bandar Lampung)” disebutkan fakta angka perceraian muslim berpendidikan tinggi terus mengalami peningkatan. Menurutnya, kesadaran kesamaan gender oleh kaum wanita muslim turut menyumbang angka tersebut.

Add Comment