Puisi Tegalan Dibacakan di Spanyol

Foto Tambari Gustam. Sumber: Pemkot Tegal.

Spanyol – Seniman Tegal, Tambari Gustam mengunjungi Spanyol beberapa waktu lalu bersama dengan teman-temannya. Kunjungan yang juga dilakukan di Maroko ini sebagai studi banding wawasan kebangsaan dan toleransi kehidupan sosial.

Dilansir dari laman Pemkot Tegal, peristiwa menarik terjadi ketika Sang Antropolog, Dr. Inang Winarso membawakan puisi tegalan di kawasan kuliner Jl. La Ramblas, Kota Barcelona, Spanyol. Puisi yang dibawakan ketua asosiasi antropologi yang kesehariannya bekerja sebagai konsultan di Dirjen Kebudayaan itu berjudul “Kangen Koe” yang kemudian diubah dalam Bahasa Inggris, Miss You.

Tambari Gustam menilai yang dilakukan Inang ialah sesuatu yang menarik dan cukup gayeng. “Karena saking ekspresifnya Inang membacanya membuat mereka tersenyum dan bertepuk tangan bahkan diakhir pembacaan, turis yang sedang duduk sambil menikmati minuman khas Spanyol (semacam ramuan tradisional) sempat tersenyum dan turut bertepuk tangan,” katanya.

Pelopor Puisi Tegalan

Puisi “Kangen Kowe” adalah salah satu puisi karya seniman Lanang Setiawan. Nama aslinya ialah Slamet Setiawan, ia lahir pada 25 November 55 tahun yang lalu di Tegal.

Buku mengenai biografinya kini telah rampung ditulis oleh salah satu guru sekolah negeri di Slawi, Mua’rif Esage. Rencananya buku tersebut akan dirilis tak lama setelah selesai ditulis pada Januari kemarin. Menurut Mua’arif, Lanang Setiawan adalah sosok serupa Goenawan Mohamad. Baginya, Lanang memiliki segudang talenta.

“Lanang Setiawan adalah pelopor sastra tegalan yang tidak hanya melahirkan karya puisi, naskah drama, esai, novel ataupun tembang-tembang tegalan. Namun belakangan ini ia melahirkan satu film perjalanan Walikota Tegal Nursholeh berjudul Titik Balik,” tambahnya.

Sementara itu, penyair sekaligus kritikus dan penerjemah lulusan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung berpendapat Lanang Setiawan adalah pelopor sekaligus pendobrak sastra tegalan. “Lanang Setiawan bukan hanya seorang pelopor sastra tegalan, tetapi juga seorang pendobrak sastra tegalan. Sebuah keberanian artistik yang tak main-main,” tulis Narudin dalam “Haiku Tegalan Autobiografi Lanang Setiawan”.

Add Comment