Bupati Tegal Deklarasikan Pencegahan Perkawinan Anak

Bupati Tegal menandatangani deklarasi pencegahan perkawinan anak. Sumber: Humas Pemkab Tegal.

Bumijawa – Melihat banyaknya kasus nikah muda di Kabupaten Tegal, Bupati Tegal deklarasikan Pencegahan Perkawinan Anak di  Pasar Slumpring Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Rabu (27/11) pagi. Pendeklarasian ini bersamaan dengan acara Pencanangan Kesatuan Gerak PKK-KKBPK Kesehatan.

Bupati Tegal, Umi Azizah dalam sambutannya meminta para orang tua, khususnya ibu, untuk ikut berperan aktif dalam memantau putra putrinya. Pihaknya menyebutkan, hingga September tercatat ada 63 pasangan remaja yang mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama Slawi dengan mayoritas karena faktor hamil di luar nikah dan usia yang di bawah ketentuan.

“Kasus kehamilan remaja yang tidak dikehendaki ini terus meningkat. Dari 132 kasus di tahun 2016 bertambah menjadi 187 kasus di tahun 2017. Pencegahan anak di usia dini berarti juga mencegah kekerasan dalam rumah tangga, perceraian di usia muda hingga resiko kehamilan yang dapat menimbulkan gangguan pada janin hingga kematian pada ibu dan anak,” jelasnya.

Dilansir dari laman Pemkab Tegal, acara ini diikuti oleh sekitar 700 orang dari unsur Kepala OPD, Camat, Anggota TP PKK Kabupaten Tegal, Dharma Wanita Kabupaten Tegal, Kepala UPTD Puskesmas se-Kabupaten Tegal, Forkompincam Bumijawa, serta tokoh masyarakat setempat.

“Acara ini digelar untuk meningkatkan cakupan pelayanan yang adil dan berkualitas dalam program pemberdayaan kesejahteraan keluarga, program kependudukan keluarga berencana dan pembangunan keluarga serta program kesehatan menuju terbentuknya keluarga kecil yang sehat dan berkualitas,” tutur A. Thosim, Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Tegal.

Selamatkan Generasi Bangsa

Mulai September 2019, usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun. Hal tersebut berlaku semenjak DPR mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Usia minimum itu berlaku bagi laki-laki dan perempuan.

Dunia psikologi sendiri menilai, usia yang cocok untuk menikah adalah usia di atas 20 tahun. Ahli psikologi, Roslina Verauli, dikutip dari laman BKKBN menyampaikan bahwa usia remaja (9-20 tahun) tidak dianjurkan untuk mengikat hubungan pernikahan. Bukanlah tanpa sebab, dalam dunia psikologi, rentang usia remaja masih dalam tahap mencari identitas diri. Jika dipaksakan akan berdampak pada perceraian.

Sementara menurut Guru Besar Departemen Ilmu Keluarga IPB, Euis Sunarti, pernikahan tidak hanya mengenai kesiapan fisik, namun juga harus diimbangi dengan kematangan mental. Persoalan yang umum terjadi biasanya remaja menilai dirinya siap menikah namun tidak disetujui orang tua karena mempertimbangkan sisi mental anaknya, ditakutkan pernikahannya tidak harmonis. Mereka yang dilarang menikah, maka kemungkinan yang terjadi ialah seks bebas. Oleh karena itu, Euis meminta agar orang tua berperan untuk mendorong anaknya menikah di usia yang tepat, sehingga nantinya bisa terbangun keluarga berkualitas.

Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2018 menyebutkan bahwa kasus perceraian di Indonesia didominasi oleh usia pasutri 20-24 tahun dengan usia pernikahan mereka yang tidak mencapai 5 tahun. Tentu ini harus menjadi perhatian khusus bagi orang tua dan pemerintah agar nantinya tidak ada generasi penerus yang terjebak pada pernikahan yang salah mengingat banyaknya dampak negatif terkait nikah muda dan perceraian.

Add Comment