Kawasan Kumuh Siwatu akan Ditata, Diharapkan Jadi Ikon Baru Kota Tegal

Wakil Walikota Tegal Muhamad Jumadi saat membuka Coaching Clinic Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) Penanganan Kawasan Permukiman Kumum Tegalsari (Siwatu) di Hotel Sun Q Ya. (Foto: Pemkot Brebes)

Tegalsari – Penataan kawasan pemukiman kumuh Siwatu Tegalsari diharapkan dapat mewujudkan perekonomian daerah yang berdaya saing berbasis keunggulan potensi lokal. Dalam hal ini, Walikota Tegal telah menerbitkan surat komitmen untuk mendukung penataan Siwatu, baik dalam hal dukungan kebijakan maupun dukungan dana APBD melalui Disperkim maupun OPD.

Ini disampaikan oleh Wakil Walikota Tegal Muhamad Jumadi saat membuka Coaching Clinic Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) Penanganan Kawasan Permukiman Kumum Tegalsari (Siwatu) di Hotel Sun Q Ya, Rabu (11/12/2019).

Jumadi mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah pusat agar rencana penataan Siwatu segera terwujud. “Kita harus bekerja sama, bersinergi, berkolaborasi untuk pembangunan Kota Tegal. Semuanya harus bahu membahu,” imbaunya, dilansir dari laman Pemkot Tegal.

Selain itu, Jumadi juga berharap, penataan pemukiman Siwatu Tegalsari tidak hanya bertujuan untuk mengurangi luasan kumuh, tetapi juga sebagai ruang publik sekaligus sebagai ikon baru Kota Tegal dengan pembangunan ruang terbuka hijau dan floating market di sisi selatan Siwatu.

Perlu Langkah Kolaboratif

Kawasan permukiman kumuh dianggap sebagai penyakit kota yang harus diatasi. Pertumbuhan penduduk merupakan faktor utama yang mendorong pertumbuhan permukiman. Sedangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kemampuan pengelola kota akan menentukan kualitas permukiman yang terwujud. Permukiman kumuh adalah produk pertumbuhan penduduk kemiskinan dan kurangnya pemerintah dalam mengendalikan pertumbuhan dan menyediakan pelayanan kota yang memadai.

Dilansir dari laman Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, jumlah penduduk global di perkotaan diperkirakan akan mencapai 60% pada tahun 2030, dan 70% pada tahun 2050. Jumlah kota berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa akan mencapai 450 kota, dengan lebih dari 20 kota sebagai megacity, dengan penduduk melampaui 10 juta jiwa.

Kondisi kota-kota di Indonesia yang berkembang dan berfungsi sebagai pusat-pusat kegiatan mengundang penduduk daerah sekitarnya untuk datang mencari lapangan kerja dan kehidupan yang lebih baik. Mereka yang bermigrasi ke perkotaan relatif meningkat dari tahun ke tahun. Mereka ini berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda-beda dan sebagian dari mereka datang tanpa tujuan yang jelas.

Di lain pihak kota belum siap dengan rencana sistem perkotaan guna mengakomodasi perkembangan kegiatan perkotaan dalam sistem rencana tata ruang kota dengan berbagai aspek dan implikasinya termasuk di dalamnya menerima, mengatur dan mendayagunakan pendatang. Akibatnya terjadi aktivitas yang sangat heterogen dan tidak dalam kesatuan sistem kegiatan perkotaan yang terencana, yang mengakibatkan terjadinya kantong-kantong kegiatan yang tidak saling menunjang, termasuk dengan munculnya permukiman yang berkembang di luar rencana sehingga terbentuklah permukiman-permukiman kumuh.

Add Comment