Resmikan Lomba Senam, Walikota Tegal: Bangun Budaya Olahraga

Sejumlah peserta memperagakan senam. Sumber: Humas Pemkot Tegal.

Kejambon – Walikota Tegal, H. Dedy Yon Supriyono, S. E., M. M., membuka kegiatan Lomba Senam Kebugaran. Lomba yang digelar untuk memperingati HUT Persatuan Instruktur Senam Tegal (Peinset) ke-8 dan Hari Ibu 2019 ini dilaksanakan di Gor Wisanggeni Kota Tegal, Minggu (22/12/2019).

“Untuk membangun budaya olahraga , senam sebagai kebutuhan hidup. Acara ini juga dapat dijadikan hiburan murah meriah, serta ajang untuk saling menjalin kerjasama, kerukunan dan kekerabatan antar sesama sebab gerakan senam sangat bervariasi sehingga senam adalah olahraga yang sangat direkomendasikan bagi siapapun yang ingin sehat sekaligus juga memperoleh hiburan dan relaksasiā€ ucap Walikota, dikutip dari website resmi Pemkot Tegal.

Disebutkan ada beberapa jenis senam yang dilombakan pada hari itu, yakni Aerobik, Body Language, Jantung Sehat dan Zumba. Tri Yati Herawati selaku ketua panitia menyebutkan lomba terdiri dari beberapa kategori seperti senam massal, senam aerobic pemula, senam jantung sehat seri dua untuk usia kurang dari 45 tahun dan usia lebih dari 45 tahun, senam BL, senam aerobic over weight (65 Kg)/veteran (55 th keatas), AC Aerobik antar sanggar senam, aerobic mantan juara/instruktur.

Kegiatan yang diikuti 800 peserta seluruh Karesidenan Pekalongan tersebut diharapkan mampu menggali potensi dalam bidang olahraga senam. Tujuan diadakannya lomba senam ini juga untuk turut mempromosikan olahraga senam, terutama aerobik. Akrabnya masyarakat akan olahraga senam bisa ikut serta membangun masyarakat yang sehat dan sejahtera.

Kesadaran Olahraga

Tahun 2010, Sekretaris Kemenpora melaporkan, partisipasi masyarakat Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 2003, minat warga untuk berolahraga sebesar 25,4 persen. Angka ini dari sebelumnya yang hanya sebesar 22,6 persen.

WHO mencatat ada sekitar 2 juta orang di seluruh dunia yang meninggal akibat penyakit yang ditimbulkan dari gaya hidup malas dan kurang berolahraga. Bahkan University of Hong Kong menyebutkan kurang berolahraga sama bahayanya dengan aktivitas merokok. Salah satu hasil penelitian pada tahun 2004, ada sekitar 20% orang dewasa (usia 35 tahun keatas) yang meninggal karena kurang berolahraga.

Di Indonesia sendiri minat masyarakat untuk berolahraga semakin menurun setiap tahunnya. Terakhir pada tahun 2009, Kemenpora mencatat minat tersebut hanya sampai pada angka 21,8 persen saja. Angka ini memang tidak jauh berbeda/tidak terjadi penurunan yang signifikan sejak tahun 2003. Namun, catatan dari Kemenpora juga menjelaskan bahwa penurunan tersebut terjadi baik di perkotaan maupun pedesaan. Hanya saja, partisipasi penduduk perkotaan untuk berolahraga masih cukup tinggi. Hal ini disinyalir karena fasilitas yang ada jauh lebih baik sehingga jenis olahraga yang ada pun semakin beragam.

Padahal kurang berolahraga berdampak pada sejumlah gangguan kesehatan. Seperti yang dikatakan VicHealth pada tahun 2010, ada sejumlah masalah kesehatan yang ditimbulkan karena kurangnya aktivitas olahraga. Masalah tersebut salah satunya adalah gangguan konsentrasi otak. Hal serupa juga dikemukakan oleh Yoris Sebastian dalam bukunya yang berjudul Oh My Goodness! Buku Pintar Seorang Creative Junkles. Ia menuliskanĀ  bahwa olahraga berperan dalam membangun creative mind. Pada dasarnya kerja otak adalah gabungan dari seluruh tubuh manusia. Oleh karena itu, manusia harus berolahraga atau minimal bergerak agar neuron pada otak bisa bekerja secara optimal.

Hadirnya jenis olahraga yang semakin beragam seharusnya bisa membangkitkan gairah masyarakat Indonesia untuk berolahraga. Mengingat selain menyehatkan tubuh, olahraga juga membantu kerja otak.

Add Comment